Gunung Bawakaraeng – Sulawesi Selatan

Gunung Bawakaraeng – Memiliki arti nama tersendiri bagi masyarakat sekitarnya. Bawa artinya Mulut sedangkan Karaeng sendiri artinya Tuhan. Gunung Bawakaraeng atau Gunung Mulut Tuhan merupakan gunung yang di sakralkan oleh masyarakat setempat. Dengan ketinggiannya yang mencapai sekitar 2.830 mdpl, menjadikannya sebagai gunung tertinggi ke-lima di Provinsi Sulawesi Selatan. Gunung ini di dominasi oleh vegetasi hutan dataran rendah, hutan pegunungan bawah dan hutan pegunungan atas dengan berbagai kehidupan flora dan fauna di dalamnya. Termasuk pula dalam kawasan wilayah hutan wisata dan hutan lindung Lompobatang.

Lokasi Dan Transportasi

Gunung Bawakaraeng termasuk dalam Wilayah Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan atau berjarak sekitar 75 Km dari Kota Makassar.

Jalur pendakian yang sering digunakan adalah melalui Desa Lembanna yang merupakan desa terdekat untuk memulai pendakian. Untuk menuju ke desa lembanna, anda dapat menempuhnya dari pusat kota Makassar dengan naik angkot atau biasa disebut pete-pete menuju Terminal Sunggu Minasa dengan membayar ongkos sekitar Rp 3.000*) per orang. Dari terminal Sunggu Minasa, kemudian berganti dengan angkutan desa berwarna merah tujuan malino dan berhenti sampai di desa lembanna. Perjalanan dapat di tempuh dalam waktu sekitar 2-3 jam dengan membayar ongkos sekitar Rp 30.000*) per orang.

Wisata

Awal pendakian dari desa lembanna, anda akan disuguhkan dengan hamparan pemandangan ladang pertanian dan perkebunan penduduk dengan beberapa anak sungai yang mengalir jernih mengitarinya. Suasananya pun cukup asri dan sejuk karena memang desa ini berada di ketinggian sekitar 1.400 mdpl. Sampai di batas hutan anda akan mulai masuk hutan pinus dengan medannya yang mulai menanjak ringan, sampai sekitar 45 menit pendakian maka tibalah anda di Pos 1. Pada pos ini tidak terdapat sumber air, hanya berupa lahan terbuka dan terdapat percabangan jalur yang menuju Lembah Ramma.

Desa LembannaDesa Lembanna (sumber)

Dari Pos 1 selanjutnya pendakian akan menuju Pos 2. Medan yang dilalui cukup landai yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit pendakian. Pos 2 ditandai dengan sebuah lahan kecil yang cukup terbuka dan terdapat sumber air berupa sungai kecil yang mengalir.

Dari Pos 2 selanjutnya pendakian menuju Pos 3 yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Kondisi Pos 3 masih sama dengan pos sebelumnya yaitu hanya berupa lahan terbuka. Selanjutnya pendakian menuju Pos 4 dapat ditempuh dalam waktu sekitar 90 menit lagi. Pos 4 ditandai dengan adanya lahan datar yang cukup rindang untuk beristirahat.

Dari Pos 4 selanjutnya pendakian menuju Pos 5. Medan yang dilalui cukup landai yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 90 menit. Pos 5 ditandai dengan sebuah lokasi yang terbuka luas dengan banyaknya pohon tumbang sisa kebakaran hutan beberapa tahun lalu. Terdapat sumber air di pos ini yang bisa anda temukan sekitar 50 meter di jalur yang menurun.

Pos 5 Gn. Bawakaraeng.Pos 5 Gn. Bawakaraeng. (sumber)

Dari Pos 5 selanjutnya pendakian menuju Pos 6 yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit. Medan yang dilalui akan mulai menanjak dengan vegetasi hutan yang habis terbakar disertai pepohonan tumbang sehingga suasana sangat terbuka. Sebaiknya jangan melintasi jalur ini saat malam hari karena jalurnya yang tidak begitu jelas, selain itu pula tiupan angin kencang yang membuat dingin dan arah angin yang berubah-ubah akan menjadi kesulitan tersendiri bagi pendaki. Di jalur ini pula akan banyak ditemui plakat memoriam pendaki yang meninggal. Pos 6 tidak memiliki sumber air dan berada di lokasi yang cukup terbuka sehingga rawan hembusan angin kencang.

Dari Pos 6 selanjutnya pendakian menuju Pos 7 yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 90 menit. Medan awal yang dilalui cukup landai sampai akhirnya akan menanjak dengan vegetasinya berupa hutan lumut yang rapat. Pos 7 berada di sebuah puncak bukit yang ditandai dengan area lahan yang cukup terbuka luas dengan beberapa batuan besar di sisinya. Dari sini puncak Bawakaraeng sudah terlihat namun tidak cukup aman untuk berkemah di pos ini karena rawan badai.

Dari Pos 7 selanjutnya pendakian menuju Pos 8 yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Medan yang dilalui naik turun melintasi dua buah bukit dengan vegetasi berupa rumput savanna sampai tiba di Pos 8. Di pos 8 terdapat sumber air dan di pos ini pula biasanya pendaki akan bermalam dan meninggalkan sebagian barang-barangnya sebelum melanjutkan pendakian menuju puncak besok paginya.

Menjelang dini hari biasanya pendakian akan dilanjutkan menuju puncak. Medan yang dilalui akan terus menanjak dengan vegetasi berupa daerah hutan basah yang lebat disertai dengan tumbuhan bunga edelweiss. Sampai sekitar 60 menit pendakian maka tibalah anda di Pos 9.

Dari Pos 9, pendakian dilanjutkan menuju Pos 10 yang merupakan pos terakhir. Perjalanan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit dengan medan yang sangat terbuka dan terus menanjak. Vegetasi yang dilalui berupa tumbuhan bunga edelweiss di sepanjang jalurnya.

Tiba di Pos 10 pendakian anda sudah hampir mendekati puncak. Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk menuju puncaknya. Pos 10 merupakan sebuah lahan datar terbuka dengan vegetasi berupa padang savanna, sangat cocok untuk mendirikan tenda di tempat ini.

Sebelum mencapai puncak, anda akan menemukan sumber air berupa sumur yang di keramatkan oleh masyarakat sekitar. Air di sumur ini sangat jernih dan bersih sehingga dapat digunakan, biasanya masyarakat yang datang kesini selalu mengambil air di sumur ini untuk kemudian dibawa pulang.

View puncak Gn BawakaraengView puncak Gn. Bawakaraeng (sumber)

Pada puncak gunung bawakaraeng terdapat sebuah tugu triangulasi setinggi satu meter yang terbuat dari semen. Pemandangan dari atas sini sangat terbuka luas sehingga akan sangat menarik untuk dinikmati ketika cuaca cerah. Jika anda melihat pemandangan sekitarnya dengan lebih jauh, anda dapat menyaksikan panorama alam gunung bulusaraeng, gunung lompobatang, panorama laut dan juga pemandangan kota Makassar. Gulungan-gulungan awan putih yang terbentang pun tampaknya akan semakin melengkapi rasa takjub anda saat berada di atas sini. Amazing!

Tugu TriangulasiTugu Triangulasi (sumber)

Tips

  1. Waktu terbaik untuk mendaki gunung ini adalah sekitar Bulan Mei – September karena pada bulan-bulan tersebut cuaca lebih bersahabat sehingga pemandangan yang tersajikan dapat lebih terlihat.

  2. Hormatilah adat istiadat yang berlaku pada masyarakat setempat, apalagi mengingat gunung ini merupakan gunung yang di sakralkan.

  3. Sebaiknya mendakilah dengan orang yang sudah paham dengan jalur pendakiannya karena jalur pendakian menuju puncak bawakaraeng terbilang cukup sulit.

  4. Sebaiknya anda menginap terlebih dahulu di desa lembanna untuk kemudian melanjutkan pendakian besok paginya. Hindari untuk mendaki saat malam hari karena cuaca akan lebih dingin dan juga lebih berpotensi tersesat akibat jalur yang kurang jelas.

  5. Hentikan pendakian jika cuaca buruk!

Mendaki gunung bawakaraeng akan menghadirkan pengalaman tersendiri bagi anda. Pemandangan yang disajikan dari atas puncaknya termasuk suguhan alam yang paling menarik di tanah Sulawesi, dijamin akan mampu membayar rasa penat yang terasa. Persiapkanlah semua perlengkapan dan peralatan pendakian anda dengan baik, agar rencana pendakian dapat berjalan dengan lancar. Selamat mendaki!

*) Harga dapat berubah sewaktu-waktu.

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerMyspaceRSS

Testimonials

Saya & keluarga sebanyak 14 orang mendaki gunung Papandayan tanggal 16-18 Februari 2013 & mempercayakan tim guide (2 orang) & porter (4 orang)  kepada saudara Ase & tim.
Alhamdulillah, keluarga saya (termasuk anak-anak umur 7-16 tahun) dapat menikmati tantangan pendakian dimana sebagian besar dari anggota rombongan adalah pemula yang baru pertama kali naik gunung.
Saudara Ase & tim sangat profesional dalam memberikan jasa pelayanannya dengan keramahan & perhatian yang luar biasa.
Saya sangat merekomendasikan saudara Ase & tim kepada siapa saja para pemula yang ingin menikmati sensasi tantangan mendaki gunung dalam arti gunung & camping yang sesungguhnya.
Insya Allah, rencana pendakian selanjutnya saya juga akan meminta mereka kembali untuk menemani kami lagi.
Sukses buat saudara Ase & tim.
Salam kami;
Bapak Obik & Keluarga
Lebak Bulus, Jakarta Selatan
Pak Obik & Keluarga, Family Package Papandayan Februari 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Connect With Us