Gunung Lawu – Jawa Tengah

Gunung Lawu – Memiliki ketinggian sekitar 3265 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan tiga puncak di atasnya yaitu puncak hargo dalem, hargo dumiling dan yang tertinggi adalah hargo dumilah. Berbeda dengan beberapa gunung lainnya di pulau jawa, gunung lawu dikenal memiliki mistis yang kuat. Beberapa larangan baik yang tertulis maupun lisan sudah sepatutnya untuk diikuti, jika dilanggar maka masyarakat setempat percaya pelakunya akan mendapat musibah dalam pendakian.

Lokasi Dan Transportasi

Lokasi Gunung lawu berada di perbatasan provinsi jawa tengah dan jawa timur. Tepatnya berada di kota karanganyar di provinsi jawa tengah dan kabupaten magetan di provinsi jawa timur.

Untuk mendaki gunung ini terdapat dua jalur resmi yang biasa digunakan pendaki yaitu jalur cemoro kandang (barat) di tawangmangu, jawa tengah dan jalur cemoro sewu (selatan) di sarangan, jawa timur. Pintu gerbang masuk kedua jalur ini tidak berjauhan, hanya berjarak sekitar 200 meter.

jalur pendakian gunung lawuJalur pendakian gunung lawu (sumber)

Jika perjalanan anda dari jawa timur maka sebelumnya anda dapat menuju terminal maospati terlebih dahulu dan naik bus tujuan terminal magetan dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Tiba di terminal magetan anda dapat kembali naik mobil jenis L300 yang akan mengantar anda langsung menuju pintu masuk pendakian cemoro sewu maupun cemoro kandang.

Jika dari jawa tengah, anda dapat menuju terminal tirtonadi di kota solo terlebih dahulu. Dari sini kemudian naik bus menuju terminal tawangmangu, ongkosnya sekitar Rp 8.000*). Dari terminal tawangmangu kemudian anda dapat naik mobil L300 yang akan menuju cemoro kandang sampai cemoro sewu, ongkosnya sekitar Rp 7.000*) dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 20 menit.

Wisata

gunung lawuGunung lawu (sumber)

Mendaki gunung lawu sebaiknya melalui jalur cemoro sewu karena jarak tempuhnya lebih singkat untuk menuju puncak tertinggi hargo dumilah. Jarak tempuhnya sekitar sembilan kilometer dengan kondisi medan jalan setapak bebatuan yang tersusun rapi dan beberapa anak tangga yang dibuat permanen. Di awal perjalanan dari gerbang pendakian menuju pos 1, kondisi jalurnya cukup landai dengan lebar jalan sekitar dua meter. Anda akan menemui beberapa shelter selama perjalanan menuju pos 1 ini dan juga akan menemui sumber air yang bernama sendang wesanan yang ditandai dengan adanya bak penampung air dengan sebuah bangunan kecil di atasnya. Perjalanan kemudian akan mulai menanjak dengan kondisi jalur yang mulai menyempit, sampai sekitar satu jam perjalanan tibalah anda di pos 1 yang berada di sebelah kiri jalur.

Dari pos 1 menuju pos 2 jarak tempuh pendakian memakan waktu sekitar 80 menit. Jalurnya semakin menanjak dengan melintasi vegetasi hutan pinus. Di jalur ini anda akan melintasi sebuah lokasi yang dikeramatkan yang bernama watu jago, ditandai dengan sebuah batu besar berbentuk mirip ayam jago. Setibanya di pos 2 perjalanan anda selanjutnya menuju pos 3 yang ditandai dengan sebuah bangunan beratap seng. Waktu tempuh perjalanan sekitar satu jam. Kondisi medan yang dilalui tak berbeda jauh dengan jalur sebelumnya yang terus menanjak terjal melintasi vegetasi hutan pinus.

Pemandangan di jalur lawuPemandangan di jalur lawu

Selanjutnya perjalanan anda akan menuju pos 4 yang memakan waktu tempuh perjalanan sekitar 70 menit. Kondisi medannya masih tetap menanjak dengan pemandangan batuan besar di sisi kiri dan kanan jalur. Pada lokasi tertentu terdapat sebuah batu besar di tengah jalur dengan kondisi jurang di salah satu sisinya. Untuk melewatinya anda harus berjalan di pinggiran batu ini dengan berhati-hati. Pada pos 4 ini tidak terdapat bangunan shelter. Lokasinya berada di cerukan tebing batu dengan lahan datar yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda.

Dari sini perjalanan selanjutnya adalah menuju pos 5 yang merupakan pos terakhir. Kondisi medannya cukup curam dan terjal sehingga anda harus lebih berhati-hati dalam melangkah. Dengan memakan waktu tempuh perjalanan sekitar 30 menit maka tibalah anda di pos 5. Pos ini berada di lokasi terbuka dengan lahannya berupa hamparan rumput yang cukup luas untuk mendirikan beberapa tenda. Daerah pos 5 ini biasa juga dikenal dengan sebutan cokro suryo dan cokro srengenge karena hamparan rumputnya yang luas. Selain itu juga sering disebut pos jolotundo karena berada di dekat sumur jolotundo yang di keramatkan. Sumur ini berupa gua berbentuk vertical dimana terdapat sumber air di dalamnya.

Dari pos 5 kemudian perjalanan diteruskan menuju sendang derajat. Kondisi medan yang dilalui sudah cukup landai yang dapat di tempuh sekitar 15 menit. Di sendang derajat yang dikeramatkan ini terdapat sumber air yang bisa digunakan. Terdapat pula bangunan rumah sederhana yang bisa anda tumpangi untuk menginap. Di rumah ini pemiliknya menjual berbagai makanan, mulai dari gorengan sampai nasi sayur dengan harga yang relatif terjangkau tentunya.

Dari sendang derajat anda dapat melanjutkan perjalanan menuju puncak. Di tengah perjalanan anda akan bertemu persimpangan, jika ke kiri menuju puncak hargo dumilah dan jika ke kanan menuju hargo dalem yang menjadi jalur pertemuan ke cemoro kandang. Di hargo dalem terdapat sebuah petilasan Prabu Brawijaya V dan sebuah makam sunan Lawu yang biasanya akan ramai dikunjungi para peziarah pada bulan suro. Disini pula berdiri rumah-rumah sederhana tempat biasanya para peziara menginap yang diberi nama kandang jaran atau gedogan.

Perjalanan menuju puncak hargo dumilah hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan melintasi jalur yang landai kemudian menanjak sampai ke puncaknya. Puncak hargo dumilah di ketinggian 3265 mdpl ditandai dengan adanya bangunan tugu triangulasi.

Pemandangan dari puncak ini sangat terbuka luas dengan suguhan keindahan yang diberikannya. Dari sisi timur anda dapat menyaksikan pemandangan gunung-gunung lainnya seperti gunung wilis, gunung semeru dan arjuno. Sedangkan dari sisi barat anda dapat menyaksikan keindahan gunung merbabu dan merapi. Luar biasa!

Puncak hargo dumilahPuncak hargo dumilah (sumber)

Pemandangan dari puncak hargo dumilahPemandangan dari puncak hargo dumilah (sumber)

Tips

  1. Jagalah sikap dan perkataan anda selama pendakian karena gunung lawu diyakini oleh masyarakat sekitar memiliki kekuatan mistik dengan beberapa pantanganya yang apabila dilanggar akan membuat pelakunya bernasib sial.

  2. Untuk dapat lebih menikmati pemandangan sebaiknya anda melakukan pendakian dari jalur cemoro sewu dan turun melalui cemoro kandang.

  3. Bulan suro adalah musimnya pendakian, akan banyak pedagang musiman yang datang berjualan di atas gunung ini. Jadi anda tidak perlu membawa beban logistik yang berlebih karena dapat membeli makanan di atas nanti.

Walau banyak cerita mistis yang melekat pada gunung lawu, tidak lantas menjadikan gunung ini sepi dari kunjungan wisatawan. Terutama saat menjelang hari-hari libur, dipastikan gunung ini akan ramai dikunjungi para pendaki. Selamat berwisata!

*) Harga dapat berubah sewaktu-waktu

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerMyspaceRSS

Testimonials

Ternyata ga cuma bisa guide’in nggunung doang mas Ase jg bisa guide’in mantai.. terimakasih udah bkin trip singkat kita menyenangkan, asik, seru, dan cetar badai membahana, apalagi pas loncat jembatan cinta itu sesuatu bgt + unforgettable moment..
thank u mas Ase udah jd guide yg baik + sabar guide’in 9 wanita calon apoteker.. 😀
Alvita Widyastuti, Pulau Tidung Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Connect With Us